Karya sastra secara umum bisa dibedakan menjadi tiga: puisi, prosa, dan drama. Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poesis, yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan. Sedangkan kata poet dalam tradisi Yunani Kuno berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
Carlyle mengemukakan bahwa puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya disusun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti musik.
Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah.
Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.
Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.
Ada juga yang mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, digubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan.
Yang Membedakan Puisi dari Prosa
Slametmulyana (1956:112) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua, puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga, di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.
Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).
Perbedaan lain terdapat pada sifat. Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987)
Perbedaan lain yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.
Unsur-unsur Puisi
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut.
Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.
Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan.
Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.
Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.
Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.
Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik.
Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1) Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
(2) Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3) Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
(4) Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
Sedangkan struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
(3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
(5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.(http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/07/27/puisi-pengertian-dan-unsur-unsurnya/)
PUISI: DEFINISI DAN UNSUR-UNSURNYA
1. Pengertian
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.
(1) Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.
(2) Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.
(3) Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.
(4) Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).
(5) Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
2. Unsur-unsur Puisi
Berikut ini merupakan beberapa pendapat mengenai unsur-unsur puisi.
(1) Richards (dalam Tarigan, 1986) mengatakan bahwa unsur puisi terdiri dari (1) hakikat puisi yang melipuiti tema (sense), rasa (feeling), amanat (intention), nada (tone), serta (2) metode puisi yang meliputi diksi, imajeri, kata nyata, majas, ritme, dan rima.
(2) Waluyo (1987) yang mengatakan bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau yang disebut pula sebagai struktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang.
(3) Altenberg dan Lewis (dalam Badrun, 1989:6), meskipun tidak menyatakan secara jelas tentang unsur-unsur puisi, namun dari outline buku mereka bisa dilihat adanya (1) sifat puisi, (2) bahasa puisi: diksi, imajeri, bahasa kiasan, sarana retorika, (3) bentuk: nilai bunyi, verifikasi, bentuk, dan makna, (4) isi: narasi, emosi, dan tema.
(4) Dick Hartoko (dalam Waluyo, 1987:27) menyebut adanya unsur penting dalam puisi, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi. Unsur tematik puisi lebih menunjuk ke arah struktur batin puisi, unsur sintaksis menunjuk ke arah struktur fisik puisi.
(5) Meyer menyebutkan unsur puisi meliputi (1) diksi, (2) imajeri, (3) bahasa kiasan, (4) simbol, (5) bunyi, (6) ritme, (7) bentuk (Badrun, 1989:6).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur puisi meliputi (1) tema, (2) nada, (3) rasa, (4) amanat, (5) diksi, (6) imaji, (7) bahasa figuratif, (8) kata konkret, (9) ritme dan rima. Unsur-unsur puisi ini, menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur, yaitu struktur batin puisi (tema, nada, rasa, dan amanat) dan struktur fisik puisi (diksi, imajeri, bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima). Djojosuroto (2004:35) menggambarkan sebagai berikut.
Gambar 1. Puisi sebagai struktur
Berdasarkan pendapat Richards, Siswanto dan Roekhan (1991:55-65) menjelaskan unsur-unsur puisi sebagai berikut.
2.1 Struktur Fisik Puisi
Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut.
(1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik)
(3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
(5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
(6) Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.
2.2 Struktur Batin Puisi
Adapun struktur batin puisi akan dijelaskan sebagai berikut.
(1) Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
(2) Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3) Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.(http://endonesa.wordpress.com/2008/09/08/puisi-definisi-dan-unsur-unsurnya/)
HAKEKAT PUISI
Puisi dilihat dari segi bangunan bentuknya pada umumnya merupakan pemakaian atau penggunaan bahasa intensif yang memiliki makna yang mendalam yang telah dimanipulasi sehingga memiliki pengaruh kuat dalam menggerakkan emosi pembaca yang memunculkan gaya penuturan dan daya lukisnya. Bahsa puisi lebih padat, lebih indah lebih cemerlan dan lebih hidup ( compressed, picturesque, vivid ). Bahasa puisi mengandung penggunaan lambang-lambang metaforis dan bentuk-bentuk intuitif yang lain untuk mengespresikan gagasan, perasaan dan emosi oleh pembacanya oleh karena puisi lebih pada arah imajinasi dan rana (domain), kepadatan bahasa pusi sangat berkaitan dan singkron dalam upaya sang penyair untuk memadatkan sejumlah pemikiran, perasaan dan emosinya yang akan diungkapkannya.
Perbedaan antara penulis prosa dengan penulis puisi adalah kemempuan untuk menyampaikan dan mengespresikan hal-hal yang sangat besar dan luas yang sangat ringkas dan padat. Dipandang dari segi isinya pusi yang bagus merupakan ekspresi yang paling benar ( genuine expression ) atas keseluruhan bentuk keseluruhan gaya manusia yang memiliki ekspresi fikiran dan jiwa terhadap pengetahuan dan pengalaman terhadap peristiwa kehidupan. Dengan demikian fenomena mem-budaya-puisi itu tercipta dalam proses yang kira-kira dibagangkan sebagi berukut :
Alam
Gagasan
Materi isi perasaan peristiwa
Emosi kehidupan pengalaman
Puisi
Kosa kata
Materi bentuk
Struktur
Hubungan Puisi Dengan Pengalaman Hidup Manusia
Puisi memiliki kekuatan tersendiri untuk memperluas pengalaman hidup aktual dengan jalan mengatur dan mensintesekannya. Pengalaman yang melayani kebutuhan universel manusia untuk memperoleh pelarian obat penawar dari beban kesibukan hidup yang rutin. Kejadian hidup yang terkadan membuat ngilu serta menjadi beban hidup, membutuhkan beberapa terapi untuk mengobatinya, terkadang dengan ekspresi lagu dan atau pelarian hidup untuk menghindari pengalaman atau ingin mengulan kembali kejadian masalalu. Ekspresi yang muncul adalah keanehan yang terkadang dinilai orang sebagai penyimpangan. Untuk menyampaikan kepada orang prihal tersebut maka mereka mencoba untuk meluapkan pengalaman tersebut dalam bentuk puisi yang disebut dengan “pengalaman perwakilan”.
Puisi Dan Keinsafan/Kesadaran Individu
Membaca puisi berarti kita diajak untuh melihat kembali kesadaran/keinsafan manusia baik itu diri sendiri maupun orang lain. Hal ini sangat dimungkinkan leh karena puisi itu sendiri yang mengajak kita untuk melihat kedalam hati manusi, puisi biasanya menyentuh sisi-sisi yang mengenai perihal :
- Topeng yang dipakai manusia dalam dunia nyata
- Berbagai peran yang diperankan oaran g dalam dalam menampilkan dirinya di dunia atau lingkungan masyarakat.
Ada hak dan misi yang dibawa Oleh seorang penyai lewat puisinyauntuk membuka tabir ayang menutupi hati manusia dan membawa kita untuk melihat kedalaman rahasia perasaan, fikiran dan impian manusia. Inilah yang menbawa kita kepada manusia yang lebih sensitif, responsif dan lebih simpatik.
Puisi Dan Keinsafan Sosil
Puisi juga memeberiakan pengetahuan kepada kita tentang manusia sebagai “Makhlu Sosil”, yang telibat dalam issue dan problem sosil. Secara imajinatif puisi mampu untuk memberikan gambaran kepada kita perihal sebagai makluk sosial, baik itu berupa keadaan dan penaf siran situasi keadaan sosil, biasanya berupa :
- Penderitaan atas ketidak adilan
- Perjuangan untuk kekuasaan
- Konfliknya dengan sesamanya
- Pemberontakan terhadap hukum tuhan atau hukum manusia sendiri
- Ketidak sepahaman dengan kebijakan
- Dll.
Pusis Dan Nilai-Nilai
Dalam bahasa puisi banyak sajian nilai-nilai ( value ) yang bernmanfaat bagi lingkunganhidupnya. Kita akan mendapatkan laki-laki atau perempuan yang telah mengambil siap terhadap terhadap mral dan etika yang telah menjadi plihannya(http://pakdhejogies.blogspot.com/2008/09/hakekat-puisi.html)
Macam- macam Unsur-unsur Puisi
PUISI
B.1. Unsur-unsur Puisi
Pengertian puisi sampai saat ini masih diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Tidak konsistennya pengertian puisi lebih disebabkan oleh perkembangan puisi yang semakin hari semakin beragam dan mengakibatkan lahirnya jenis-jenis puisi baru. Sehingga, sulit menyimpulkan apa pengertian puisi yang bisa dikenakan pada berbagai jenis puisi pada berbagai zaman.
Berikut ini beberapa definisi atau pengertian puisi yang dikemukakan oleh ahli-ahli sastra.
1.Riffaterre
A poem says one thing and means another (lewat Sarjono, 2001:124)
2.Herbert Spencer
Puisi merupakan bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan (via Waluya 1995:23).
3.Herman J. Waluya
Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya (1995:25).
4.Sapardi Djoko Damono
Puisi adalah sebentuk cara untuk mengungkapkan sesuatu yang banyak dengan cara yang paling sedikit (via Ebo, 2003:69).
Berdasarkan definisi-definisi puisi di atas, dapat ditarik benang merah tentang pengertian puisi, yaitu bentuk karya sastra yang bermuatan banyak dengan wujud bahasa yang dipadatkan.
Sebuah puisi terbangun dari dua hal, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik berkaitan dengan diksi (diction), kata kongkret (the concrete word), gaya bahasa (figurative language), dan bunyi yang menghasilkan rima dan ritma (rhyme and rhytm). Struktur batin meliputi perasaan (feeling), tema (sense), nada (tone), dan amanat (intention) (Richards lewat Waluya, 1995:24).
Struktur fisik dan struktur batin dipadu oleh penyair untuk mencapai nilai estetis dalam puisinya. Memang, ada juga penyair yang hanya mengolah struktur fisik atau stuktur batinnya saja sehingga orang sering menyebut sebuah puisi dengan komentar “bahasanya bagus” atau “maknanya bagus”. Lebih dari itu semua, setiap penyair selalu berusaha menulis puisi yang mencapai apa yang disebut oleh Horace: dulce et utile. Hendaknya, sebuah puisi tidak saja indah, tapi juga harus bermanfaat. Dan sebaliknya, tidak hanya bermanfaat, tapi juga harus indah.
Dalam sebuah wawancara, Sapardi Djoko Damono (lewat Ebo, 2003:69) mengungkapkan bahwa dalam sebuah puisi, setiap kata adalah sesuatu yang bermakna. Bagi Chairil Anwar, kata-kata adalah agung, angker, yang bisa memancarkan sinar kharismatik. Lain halnya menurut Sutardji. Kata-kata adalah kata-kata itu sendiri, sehingga ia harus dibebaskan dari beban makna maupun metafora. Bagi Afrizal Malna, kata-kata adalah bahasa sehari-hari agar rakyat jelata bisa selamat dari pemberangusan (Rampan, 2000:xxxviii). Jadi, memang tidak ada kata-kata yang mubadzir yang ditulis oleh penyairnya. Setiap kata mengandung berbagai makna sehingga mampu mewakili berbaris-baris kalimat yang hendak diungkapkan penulisnya. Hal ini pulalah yang membuat penafsiran terhadap sebuah puisi menjadi bermacam-macam. Akan tetapi, pada dasarnya karya sastra termasuk puisi memang multiinterpretable.
Hakikat Puisi
Sebuah puisi modern tetap dapat disebut sebagaipuisi ternyata bukan karena bentuknya, tetapi lebih cenderung karena ada hakikat puisi yang terkandung didalamnya. Waluyo (1991: 140) berpendapayt bahwa puisi merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan perasaan penyair secara imajinatif. Wujud karya sastra tersebut muncul karena puisi merupakan karya seni yang puitis. Dikatakan puitis karena membangkitkan perasaan, menarik perhatian, bahkan memancing timbulnnya tanggapan pembaca.
Sejalan dengan pendapat diatas, Ahmad (dalam Pradopo, 2005: 5) mengemukakan bahwa unsure-unsur puisi dapat disatukan sehingga dapat diketahui beberapa unsure berupa emosi,imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan, pancaindra, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur baur. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwaada tiga unsure pokok yang terdapat dalam puisi, yaitu (1) pemikiran ide, (2) bentuk, dan (3) kesan.
Unsur-unsur Pembentuk Puisi
Diksi
Diksi merupakan pemilihan kata untuk mengungkapkan gagasan. Diksi yang baik berhubungan dengan pemilihan kata yng bermakna tepat dan selaras, yang penggunaannya cocok dengan pokok pembicaraan, peristiwa dan khalayak pembaca atau pendengar ( Suroto, 1989: 112).
Bunyi
Dalam puisi bunyi bersifat estetik untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif (Prapodo, 2005: 22). Bunyi disamping hiasan dalam puisi juga mempunyai tugas untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, dan sebagainya.
Rima
Rima adalah persamaan atau pengulanhan bunyi baik diawal larik atau diakhir larik. Didalamnya masih mengandung berbagai aspek yang meliputi, rima akhir, rima dalam, rima rupa, rima identik, rima sempurna, asonansi, dan aliterasi.
Irama
Irama adalah panduan bunyi yang menimbulkan efek musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, kuat-lemah, panjang-pendek, maupun tinggi-renah, yang kesemuanya dapat menimbulkan kemerduan bunyi, kesan suasana serta makna tertentu.
Ragam Bunyi
Ragam bunyi meliputi bunyi eufoni , kakofoni, dan onomatope. Penggunaan kombinasi atau pengulangan bunyi vokal (a, I, u, e, o) dan sengau
(m, n, ng, ny) menimbulkan efek yang merdu dan berirama (eufoni). Bunyi ini menimbulkan keriangan, vitalitas maupun gerak. Sebaliknya kombinasi bunyi yang tidak merdu dan terkesan parau (kakafoni) misalnya k, p, t, s, b, p, m terkesan berirama berat lebih cocok utuk menimbulkan kesan kekuatan, tekanan, kekecauan, kahancuran, galau, gelisah, dan amarah.
Bahasa Puisi
Bahasa merupakan sarana ekspresi dalam penulisan puisi (Pratiwi, 2005: 78). Bahasa kias menyebabkan puisi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran hidup, dan terutamamenimbulkan kejelasan gambaran angan (Pradopo, 2005: 54)
Tipografi
Tipografi merupakan pembeda yang paling awal dapat dilihat dalam membedakan puisi dengan prosa fiksi dan drama (Jabrohim, 2004: 54). Penulis puisi membuat puisi dengan cara menampilkan bentuk-bentuk tertentu yang dapat diamati secara visual (Aminudin, 2002: 146; Dermawan, 1999: 44)
Isi Puisi
Menurut Waluyo (2001: 65) isi puisi mencakup tema, perasaan penyair, nada, dan amanat.
Tema adalah sesuatu yang menjadi pemikiran penulis puisi. Tema juga dapat dikatakan sebagai ide dasar suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna puisi.
Nada adalah sikap penyair kepada pembaca. Penulis puisi bisa bersikap menggurui, menasehati, mengejek, menyindir, atau bisa jadi penulis puisi bersikap lugas, hanya menceritakan sesuatu lepada pembaca
Imaji dan Simbol
Dalam menulis sebuah puisi, biasanya penyair tidak hanya menggunakan kata-kata yang bermakna lugas atau denotatif, tatapi menggunakan kata-kata yang bermakna atau mengandung arti lain atau konotatif. Dalam hubungannya dengan arti konotatif, imaji dan simbol mempunyai hubungan. Persamaanya adalah bahwa baik citra maupun simbol bermakna konotatif. Adapun perbedaannya adalah terletak pada cara pengungkapannya.
Hakikat Apresiasi
Secara etimologis, apresiasi berasal dari bahasa Inggris “appreciaton” kata itu berarti penghargaan, penilaian, pengertian, bentuk itu berasal dari kata verja “to appreciate” yang berarti menghargai, menilai, mengerti. Aminudin (1987: 34) mengemukakan bahwa apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Apresiasi dikembangkan dengan menumbuhkan sikap sungguh-sungguh dan melaksanakan kegiatan apresiasi sebagai bagian hidupnya dan sebagai statu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya.
Apresiasi dalam suatu karya mempunyai tingkatan. Waluyo (2002:45) membagi tingkatan apresiasi meliputi, (1) tingkat menggemari, (2) tingkat menikmati, (3) tingkat mereaksi, dan (4) tingkat produktif. Pada tingkat menggemari keterlibatan pembaca batinnya belum kuat. Pada tingkat menikmati, keterlibatan batin pembaca terhadap karya sastra sudah semakin mendalam. Pada tingkat mereaksi, sikap kiritis terhadap karya sastra semakin menonjol karena ia mampu menafsirkan dengan seksama dan ia mampu menyatakan keindahan dan menunjukkan dimana letal keindahan itu. Pada tingkat produktif, apresiator puisi mampu menghasilkan, mengkritik, menghasilkan, mendeklamasikan, atau membuat resensi terhadap puisi secara tertulis.
Untuk melakukan apresiasi khususnya apresiasi puisi, pemahaman mendalam tentang apresiasi puisi memang perlu dilakukan. Agar tidak salah dalam melakukan apresiasi puisi, konsep apresiasi perlu dipahami dengan cermat.
Apresiasi puisi terkait dengan sejumlah aktivitas yang berhubungan dengan puisi. Aktivitas yang dimaksud dapat berupa kegiatan membaca dan mendengarkan pembacaan puisi melalui penghayatan sungguh-sungguh (Waluyo, 2003: 19). Apresiasi merupakan pengalaman liarĂa dan batiniah yang kompleks (Ichsan, 1990: 10). Apresiasi seseorang terhadap puisi dapat dikembangkan dari tingkat sederhana ke tingkat yang tinggi. Apresiasi tingkat pertama terjadi apabila seseorang memahami atau merasakan pengalaman yang ada dalam sebuah puisi. Apresiasi tingkat kedua terjadi apabila daya intelektual pembaca bekerja lebih giat. Apresiasi tingkat tiga, pembaca menyadari hubungan kerja sastra denagn sunia luarnya, sehingga pemahamannya pun lebih luas dan mendalam.
Apresiasi puisi berkaitan dengan kegiatan yang ada sankut pautnya dengan puisi, yaitu mendengar atau membaca puisi dengan penghayatan yang sungguh-sungguh, menulis puisi, dan mendeklamasikan. Kegiatan ini menyebabkan seseorang memahami puisi secara mendalam, merasakan apa yang ditulis penyair, mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung didalam puisi, dan menghargai puisi sebagai karya sastra seni keindahan dan kelemahan.
Kegiatan apresiasi puisi tidak dapat dilepaskan dari pemahaman struktur teks puisi. Kegiatan mengapresiasi puisi dapat dilakukan dengan memahami struktur teks yang membangun puisi. Dengan demikian, untuk mengenal, memahami, dan menghargai puisi, dapat dilakukan dengan mengenal struktur bagian puisi tersebut, baik menyangkut unsur isi maupun bentuk
Pendekatan Apresiasi Puisi
Pendekatan dalam suatu karya sastra meliputi (1) pendekatan mimetik, (2) pendekatan pragmatik, (3) pendekatan ekspresif, (4) dan pendekatan objektif (Abrams, 1976: 8-29). Pedekatan mimetik merupakan pendekatan yang menitik beratkan pada pengarang yang menciptakan karya sastra dengan meniru peristiwa yang ada disekitarnya. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang menitik beratkan pada karya sastra yang memiliki unsur-unsur tertentu yang diciptakan pengarang untuk mempengaruhi respon pembaca. Pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang menitik beratkan pada pengekspresian luapan perasaan pengarang yang dituangkan dalam karya sastra. Sedangkan pendekatan objektif menitik beratkan pada unsur karya sastra yang diciptakan berdasarkan kenyataan atau realita atau objek tertentu.
Ciri-ciri puisi,
menggunakan bahasa sebagai kualitas estetiknya tambahan, atau selain arti semantiknya
wujud estetika bahasanya dengan pengulangan yg disengaja
memiliki meter dan rima
dapat memiliki satu kata/satu suku kata(http://johanesjuda.blogspot.com/2008/03/puisi-vs-prosa.html)
Pengertian dan Ciri-ciri Puisi
Puisi ialah perasaan penyair yang diungkapkan dalam pilihan kata yang cermat, serta mengandung rima dan irama. Ciri-ciri puisi dapat dilihat dari bahasa yang dipergunakan serta dari wujud puisi tersebut. Bahasa puisi mengandung rima, irama, dan kiasan, sedangkan wujud puisi terdiri dari bentuknya yang berbait, letak yang tertata ke bawah, dan tidak mementingkan ejaan. Untuk memahami puisi dapat juga dilakukan dengan membedakannya dari bentuk prosa.(http://pustaka.ut.ac.id/website/index.php?option=com_content&view=article&id=58:pbin-4104-teori-sastra&Itemid=75&catid=30:fkip)
MEMAHAMI PUISI
Ada tiga bentuk karya sastra, yaitu: prosa, puisi, dan drama. Puisi adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis. Karya-karya sastra lama yang tertulis berbentuk puisi. Mahabarata, Ramayana yang berasal dari India adalah berbentuk puisi atau kakawin. Drama-drama Sophocles (Oedipus Sang Raja, Oedipus di Kolonus, dan Antigone) berbentuk puisi. Drama-drama William Shakespeare (Hamlet, Macbeth, dan Romeo dan Yuliet) juga berbentuk puisi. Karya-karya tersebut bersifat universal.
Puisi adalah bentuk karya sastra yang bahasanya dipadatkan, dipersingkat, diberi irama, dengan bunyi yang padu, dan dengan pemilihan kata-kata bas (imajinatif). Kata-kata betul-betul terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan. Walaupun singkat atau padat, namun berkekuatan. Karena itu, kata-kata dipilih yang memiliki persamaan bunyi (rima) dengan kata-kata lainnya. Kata-kata itu juga diharapkan mewakili makna yang lebih luas dan lebih banyak. Karena itu, kata-kata itu dicarikan konotasinya atau apa yang disebut bahasa figuratif.
A. Ciri-ciri Kebahasaan dari Puisi
Jika diuraikan lebih rinci, hal-hal yang menjadi ciri puisi adalah sebagai berikut:
1. Pemadatan Bahasa
Bahasa dipadatkan agar berkekuatan gaib. Karena itu, jika dibaca nampak bahwa baris-baris tidak membentuk kalimat dan alinea, tetapi membentuk larik dan bait yang sama sekali berbeda hakikatnya. Dengan perwujudan tersebut, diharapkan makna yang lebih luas
2. Pemilihan Kata Khas
Puisi Chairil Anwar di atas menggunakan kata-kata khas puisi, bukan kata-kata untuk prosa ataupun bahasa sehari-hari. Tentu saja tidak semua kata-katanya khas puisi, pasti ada kata-kata yang jelas seperti dalam prosa atau bahasa sehari-hari. Kalau semua kata-katanya khas puisi, puisinya menjadi gelap dan sulit dipahami.
Dari puisi "Doa" tersebut ada beberapa kata yang sulit ditafsirkan secara langsung, seperti termangu, menyebut nama-Mu, susah sungguh, Caya-Mu panas suci. Kerdip lilin, kelam sunyi. Kata-kata tersebut tidak bermakna lugas tetapi bermakna kias
Kata-kata yang dipilih penyair dipertimbangkan betul berbagai aspek dan efek pengucapannya. Tidak jarang kata-kata tertentu dicoret beberapa kali karena belum secara tepat mewakili gelora hati penyair (dalam hal ini dapat dilihat naskah asli puisi karya para penyair di Pusat Dokumentasi H.B. Yassin).
Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam memilih kata adalah sebagai berikut:
a. Makna Kias
Sudah dijelaskan di depan bahwa makna kias dalam karya sastra banyak digunakan. Yang paling banyak menggunakan makna kias adalah puisi.
b. Lambang
Dalam puisi yang banyak digunakan lambang yaitu penggantian suatu hal atau benda ke hal lain atau benda lain. Ada lambang yang sifatnya lokal, kedaerahan, nasional, tetapi ada juga lambang yang sifatnya universal (berlaku untuk semua manusia). Misalnya bendera adalah lambang identitas negara (universal). Bersalaman adalah lambang persahabatan, pertemuan, atau perpisahan (universal). Berikut ini dikutip puisi yang mengandung lambang, yaitu beberapa bait puisi yang mengandung lambang, yaitu beberapa bait puisi Rendra berjudul "Surat Kepada Bunda Tentang Calon Menantunya".
c. Persamaan Bunyi atau Ritma
Pemilihan kata-kata di dalam sebuah bans puisi maupun dari satu baris ke baris yang lay mempertimbangkan kata-kata yang mempunyai persamaan bunyi dan bunyinya merdu. Bunyi-bunyi yang berulang ini menciptakan konsentrasi dan kekuatan bahasa atau sering disebut daya gaib dari kata-kata seperti dalam mantra.
Dalam puisi lama dan puisi modem sampai masa Chairil Anwar, persamaan vokal pada akhir baris sangat dipentingkan (rima akhir), seperti pada puisi "Doa"
3. Kata Konkret
Penyair ingin menggambarkan sesuatu secara lebih konkret. Oleh karena itu, kata-kata diperkonkret. Bagi penyair mungkin dirasa lebih jelas karena lebih konkret, namun bagi pembaca sering lebih sulit ditafsirkan maknanya. Sebagai contoh, Rendra dalam "Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo" membuat kata konkret berikut ini:
Dengan kuku - kuku besi, kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat, gosokkan tubuhnya pada pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah. Walaupun telanjang.
Kaki kuda yang bersepatu besi disebut "kuku besi". Kuda itu menapaki. Jalan tidak beraspal dan hal itu disebut "kulit bumi". Atmo Karpo sebagai perampok yang naik kuda digambarkan dengan "penunggang perampok yang diburu". Karena perjalanan naik kuda itu sudah lama, Atmo Karpo berkeringat. Hal itu diperkonkret dengan "surat bau keringat basah.” Penunggang kuda itu siap berperang dan sudah menghunus samurai (jenawi). Hal ini diperkonkret dengan “jenwipun telanjang”.
4. Pengimajian
Penyair juga menciptakan pengimajian (imaji = citraan) dalam puisinya. Melalui pengimajian, apa yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat (imaji, visual), didengar (imaji auditif), dan dirasa (imaji taktil).
Imaji visual dapat dihayati dalam bagian puisi Toto Sudarto Bachtiar yang berjudul "Gadis Peminta-minta"
5. Irama (Ritma)
Irama (ritma) berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. dalam puisi lama dan puisi pada umumnya, irama berupa pengulangan yang teratur dari bagian suatu baris puisi sehingga menimbulkan gelombang teratur yang menciptakan keindahan puisi. Irama dapat juga berarti pergantian keras lembut, tinggi rendah, panjang pendek secara berulang-ulang menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
Dalam puisi Angkatan Pujangga Baru, pemotongan baris-baris puisi secara teratur dapat menciptakan irama, misalnya dalam puisi "Menyesal" karya Ali Hasyim
6. Tata Wajah
Dalam puisi mutakhir (setelah tahun 1976), banyak ditulis puisi yang mementingkan tata wajah, bahkan penyair berusaha menciptakan puisi seperti gambar. Oleh karena itu, puisinya sering disebut puisi konkret karena tata wajahnya membentuk gambar yang mewakili maksud tertentu. Dibandingkan tata wajah non-konvensional, jauh lebih banyak puisi dengan tata wajah konvensional (apa adanya, tanpa membentuk gambar atau bentuk wajah tertentu).
Puisi-puisi berikut dengan tata wajah yang tidak lazim atau tidak seperti konvensi (aturan) tata wajah puisi pada umumnya.(http://anakciremai.blogspot.com/2009/05/bahasa-indonesia-memahami-puisi.html)
B. Hal Yang diungkapkan Penyair
Jika di depan dibahas aspek kebahasaan dari puisi, maka berikut ini dikemukakan apa yang diungkapkan oleh penyair melalui puisinya. Dalam hal ini akan dibahas tema, nada dan suasana, perasaan, dan amanat dari puisi.
1. Tema Puisi
Tema adalah gagasan pokok (subject-matter) yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Tema mengacu pada penyair. Pembaca sedikit banyak harus mengetahui latar belakang penyair agar tidak salah menafsirkan tema puisi tersebut. Karena itu tema bersifat khusus (adiacu dari penyair). Obyektif (semua pembaca harus menafsirkan sarana), dan lugas (bukan makna kias yang diambil dari konotasinya).
Tema yang dapat dibahas di sini misalnya tema ketuhanan (religius), tema kemanusiaan. tema cinta. tema patriotisme. tema periuamzan. Tema kegagalan hidup. tema keindahan alam tema keadilan, tema kritik sosial tema demokrasi. dan tema kesetiakawanan
2. Nada dan Suasana Puisi
Di samping tema, puisi mengungkapkan nada dan suasana kejiwaan. dalam puisi itu. Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca dan dari sikap itu terdapatlah suasana puisi itu. Ada puisi yang bernada sinis, nada prates. nada menggurui, nada memberantak, nada main-main, nada serius (sungguh-sungguh), nada gagah nada patriotik nada belas kasih (memelas), nada takut, nada - nada santai, nada masa bodoh nada pesimistis, nada humor (bergurauan), nada mencemooh, nada anggun (kharismatik), nada filosofis. nada khusyuk, dan sebagainya. Dari contoh puisi-puisi di depan dapat ditelaah bagaimana nadanya.
Nada kagum misalnya dalam puisi "Perempuan-perempuan Perkasa" (Hartoyo Andangjaya) dan '"Diponegoro" (Chairil Anwar). Nada main-main misalnya dalam puisi «Siarin" (Yudhistira Adi Nugroho) dan "Shang HaC' (Sutardji Calzoum Bachri). Nada patriotik misalnya dalam "Kerawang Bekasi" dan "Diponegoro" (Chairil Anwar) dan "Pahlawan Tak Dikenal" (Toto Sudarto Bachtiar)
3. Perasaan dalam Puisi
Puisi mengungkapkan perasaan penyair. Nada dan perasaan penyair akan benar-benar dapat kita dengarkan kalau puisi itu dibaca secara keras dalam "Poetry reading" atau deklamasi. Jika kita membaca dengan diam sebuah puisi, kita harus menafsirkan apa perasaan penyair yang mendasari puisinya itu.
Perasaan yang menjiwai puisi dapat gembira, sedih, terharu, terasing, tersinggung. patah hati. sedih yang mendalam sombong: tercekam. cemburu. kesepian. takut dan menyesal
Perasaan sedih yang mendalam diungkapkan oleh Chairil Anwar dalam "Senja. di Pelabuhan Kecil", YE. Tatengkeng dalam "Anakku", Agnes Sri Hartini dalam "Selamat Jalan Anakku", dan Rendra dalam "Orang-orang Rangkas Bitung".
Perasaan terharu terhadap suatu hal atau peristiwa kita dapati dalam "Gadis Peminta-minta" (Toto Sudarto Bachtiar), "Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya" dan "Karangan Bunga" (Taufiq Ismail), dan 'Tari Seorang Guru Kepada Muridnya" (Hartoyo Andangjaya).
4. Amanat Puisi
Amanat atau pesan atau nasihat adalah akibat yang timbul pada diri pembaca setelah membaca puisi. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. Sikap dan pendengar pembaca sangat berpengaruh kepada amanat puisi. Cara pembaca menyimpulkan amanat puisi sangat erat kaitannya dengan cara pandang pembaca terhadap sesuatu hal. Meskipun didasarkan atas cara pandang pembaca namun amanat tidak dapat lepas dari tema dan isi dari puisi yang ditelaah.
Puisi “doa” karya Chairil Anwar, dapat mengandung bermacam-macam amanat, misalnya:
a. Setelah merasa hidupnya salah, hendaknya kita kembali ke jalan Tuhan
b. Tuhan selalu menerima diri manusia yang bertobat.
c. Tobat adalah jalan menuju kebaikan
d. Jangan menutup diri terhadap ampunan Tuhan sebab hanya dengan ampunan-Nya, hidup kita menjadi lebih baik.
Puisi Hartoyo Andangjaya yang berjudul "Dari Seorang Guru Kepada Murid-muridnya" berikut ini menampilkan kemiskinan kehidupan seorang guru. Keceriaannya di kelas tidak tergambar di rumahnya yang miskin dengan "Jendela-jendela yang tak pernah digantikainnya, tentang “kursi-kursi tua”, dan tentang "meja tulis sederhana" yang tidak pernah diceritakan oleh guru itu di depan kelas.
Sabtu, 03 Oktober 2009
Diposting oleh AnInG_ImUdH di 03.05 0 komentar
Minggu, 05 April 2009
SEDIH NIY
innalilahi wa inna ilaihi rajiun....
tgl 6 guru tercinta qw..pak yon meninggal.
hah..kaget bgt dan sumpah sampe ckrg qw gag prcaya.
pi...maw gmn lagi...
smoga arwah beliau d trima d sisinya.
AMINN...
med jalan....
Diposting oleh AnInG_ImUdH di 22.10 0 komentar
Senin, 30 Maret 2009
Artia : Excuse me,may I check your ticket please?
Nor meiliyah :sure
Artia :may I also check your pasport please?
Aning :of course
Artia :thank(take the pasport)you can pass and wait in the waiting room
Nor meiliyah :okay thank you
Artia :Excuse me,may I check your ticket and passport?
Aning :yes of course
Artia : thank you can pas and wait in the waiting room
Aning :okay
Nor meiliyah :Hay…how are you?nice to mite you
Aning :I am fine,and you?
Nor meiliyah :I am fine too.where are you going to go?
Aning :I am going to go Bali
Nor meiliyah :it’s same with me.i am going to bali too
Aning :it’s casual
Nor meiliyah :what are you going to do there?
Aning :it’s only a vacation exachly
Nor meiliyah :that’s great
Aning :where do you work?
Nor meiliyah :I work in a travel company
Aning :wow….so you must a busy person.more over it’s a holiday
Nor meiliyah :that’s way I be more tired,and you…where do you school?
Aning :Unair university
Nor meiliyah :really?what faculty do you take?
Aning :faculty of psychology
Artia :what?okay I will tell to the receptionist
Racma :please announce that Garuda airplane to Denpasar to having some
problem so the departure will be delayed for about 2 hours
Endra :okay
2 minute later
Endra :attention…attention please!!!!!
Garuda Indonesia with the destination to Denpasar to having some
Problem so the departure will be delayed for abour 2 hours.thank you
Nor meiliyah :how it could be,I have to arrive on time?
Aning :what about if,I arrive to late?
Nor meiliyah :let’s we check
Aning :excuse me how departure can be delayed?
Endra :sorry,there is human error
Nor meiliyah :however I have to arrive on time,I have an important meating
Aning :yes we have paid so expensive,how it can be delayed
Endra :however my job is only to announce it
Aning :it couldn’t be like that
Rachma :what’s happen?
Endra :they fell heaviness about the delaying
Rachma :oh…we really apologize about this,since there is some trouble,that we are
Still fixing,it also for your safety
Nor meiliyah :we only waste our time for this delaying
Rachma :this isn’t what we want ,excuse me I have to go
Artia :sorry,can I help you?
Aning :how could there’s a long time delaying,it’s only waste my time
Artia :this is the procedure from our manager and it’s our task to announce it,we
will do the best to give the best service for our customer
Nor meiliyah :okay let’s wait there
Artia :excuse me there is snack and drink for our company as our sorry
Nor&Aning :okay….thank you so much
Nor meiliyah :how long theis we will have to wait?
Aning :we still have to wait for about an hour
5 minute later
Rachma :good news,everything is okay,the airplane is going to land in 15 minutes
Endra :wow…very good..
Rachma :okay let’s announce it
Endra :attention please,Garuda Indonesia with the destination to Denpasar have
Departed 15 minutes ago,and it’s going to land in 15 minutes
Nor meiliyah :this is a good news
Aning :of course
Nor meiliyah :okay,let’s prepare
Diposting oleh AnInG_ImUdH di 06.52 0 komentar
Kamis, 26 Maret 2009
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..." (Kahlil Gibran)
"Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini... pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang" (Kahlil Gibran)
Diposting oleh AnInG_ImUdH di 22.16 0 komentar
hy...
kemarin adlh hari yang bahagia.karna kemarin sodara tetangga kuw yang mirip sama andre+elang dateng k rumah.ehm...
yang kuw suka dari dy adlh dy jarang bicara,tapi sekalinya bicara bisa bikin semua orang jatuh cinta.ya.......termasuk kuw.dan ternyata dy juga blom punya cewek.ihhhhh...mmauw donks jadi ceweknya.
Diposting oleh AnInG_ImUdH di 19.49 0 komentar
Selasa, 24 Maret 2009
ehm..
lagi sedih niy.orang yang ku saiank sekarang lagi sakit.
HERNIA!!!!!!!!!
ehm..padahal bentar lagi kan UNAS!!!!!!!
ayo dunk cepetan di operasi aja,biar cepet sembuh.
ku kan juga gag tahan liyadh dy kesakitan terus.
buwad yang baca ini...doain juga iah,biar dy cepet sembuh.AMIN!!!!!
Diposting oleh AnInG_ImUdH di 19.25 0 komentar
Sabtu, 21 Maret 2009
jerawat..oh..no
ehm....kuw jerawatan...
di hidung lagi...
hah,,,
banyak yg bilang klou intu jerawat cinta
whehe,,iah c kuw lagi jatuh cinta,sama sahabat kuw sndri.
tidaaaaaaaakkkkkkkkkkk...
ampun!!!!!!!!!!
Diposting oleh AnInG_ImUdH di 23.03 0 komentar
